Bergabunglah bersama kami di
Facebook Renungan Pagi @blogspot 

Baru! daftar bacaan Rumus Umum Santa Perawan Maria  (klik di sini)
(untuk kepentingan bacaan alternatif  liturgi sabda, peringatan fakultatif Santa Perawan Maria)




Bunda yang berdukacita

Senin, 15 September 2014
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita
     
 Hari ini Gereja Katolik memperingati Peringatan Wajib Santa Perawan Maria yang Berdukacita. Apa maksudnya? Mengapa wajib diperingati? Sebagai seorang manusia yang lahir dari rahim seorang ibu, tentu kita akan mengignat ibu kita, terlebih penderitaan ibu kita sendiri. Adakah seorang anak yang tega membiarkan ibunya menderita, atau setidak-tidaknya tidak ambil pusing dengan penderitaan ibu sendiri? Orang yang baik dan setia pada Yesus tidak akan melakukan hal  yang demikian. Pokok permasalahannya ialah, sebagai umat beriman, tentu Bunda Maria menjadi Bunda kita semua oleh karena Yesus telah menjadi penebus bagi semua orang. Injil hari ini memberitakan bagaimana ramalan nabi Simeon terhadap bunda Maria. Simeon mengatakan bahwa “..suatu pedang akan jiwamu sendiri…” (Luk 2:35).  Pernahkah terbayang, seorang ibu yang hendak bersukacita akan kelahiran anaknya sendiri harus mendengar “berita miris” bahwa anak yang akan dikandung justru menimbulkan perbantahan dan menembus hati sendiri? Rasa takut, cemas, dan mengerikan akan begitu meliputi. Itulah yang mungkin dirasakan oleh Bunda Maria. Yesus harus mengalami penderitaan ditolak oleh orang – orang sekitar, namun terlebih memuncak saat penderitaan-Nya di salib, sebuah “ke-martiran” fisik demi teusan banyak orang. Bagaimana dengan Bunda Maria? Bunda Maria harus menjadi “martir” dalam hatinya sendiri, sebab penderitaan hati-nya sebagai seorang ibu begitu dahsyat diatas penderitaan hati orang lain. Seorang ibu yang justru siap menerima ramala Simeon yang sungguh mengejutkan, justru mengajarkan bagaimana kita belajar dari sosok Sang Bunda untuk setia kepada Yesus hingga sampai di kaki salib sekalipun hati sungguh sedih dan menderita. Bunda Maria tetap setia kepada Yesus apapun yang terjadi, dan Bunda Maria menyimpan semua perkara yang tak mudah itu di dalam hatinya, namun dngan kasih keibuannya dan kepercayaan akan rencana Allah kemartiran nya dalam hati harus diterima. Demikia kita, harus menerima semua hal dalam kehidupan dan siap untuk mengolah apapun yang terjadi, karena Bunda Maria telah menjadi ibu yang memberikan kekuatan hati untuk tetap setia pada perkara hati yang tidak mudah
  
   

RENUNGAN OLEH: DEUS PROVIDEBIT

Kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Senin, 15 September 2014
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

  
1Kor. 12:31 - 13:13; atau Ibr. 5: 7-9; Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16, 20; Yoh. 19:25-27
  
Kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Hari ini kita memperingati Bunda Mari berdukacita. Kita bisa membayangkan betapa betapa sedihnya seorang ibu, ketika anaknya harus mati mendahuluinya. Apalagi, anaknya itu mati dengan sangat mengenaskan, misalnya karena kecelakaan atau dianiaya dan menjadi korban pembunuhan. Kurang lebih, demikianlah suasana dukacita bunda Maria ketika ia berdiri di bawah kaki salib. Yesus, anaknya sedang menghadapi ajal-Nya, setelah menderita beberapa saat menderita sepanjang jalan salib. Yesus tidak ingin, ibu-Nya menanggung dukacita itu sendirian. Maka, Ia menyerahkan Maria kepada murid-murid-Nya dan mereka pun kemudian menerma Maria sebagai ibunya. Dalam kebersamaan antara Maria dan para murid, dukacita atas wafat Yesus, pelan-pelan berubah menjadi penyerahan total kepada Allah sekaligus pengharapan akan kebangkitan-Nya. Maria pun tetap bersama para murid untuk menanti turun-Nya Roh Kudus sampai tiba hari Pentakosta (Kis 1:14). Kehadiran Maria yang berduka cita di tengah-tengah para murid yang juga berduka cita, tentu memberi penghiburan dan kekuatan tersendiri bagi mereka. Demikian pula, Bunda Maria selalu menjadi penghiburan bagi kita. Sebab, Ia tidak hanya diserahkan kepada para murid tetapi juga kepada kita untuk menjadi bunda kita. Maka, marilah kita juga selalu membuka diri untuk menerima Bunda Maria dalam rumah kita, dalam keluarga kita. Maukah kita berdoa rosario setiap hari sehingga kita masuk dalam ikatan kekeluargaan tanpa putus dengan Bunda Maria? Per Mariam ad Iesum. Dengan perantaraan Maria, menuju kepada Yesus.

Doa: Hadirlah selalu dalam hidup kami, ya Bunda Maria yang terkasih dan biarlah kami selalu mengalami penghiburan darimu. Amin. -agawpr-

Senin, 15 September 2014 Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita

Senin, 15 September 2014
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita
  
“Ibu tersuci, kami menyebut engkau lebih dari seorang martir, karena kecemasan hati yang kauderita melebihi semua penderitaan badani” (St. Bernardus Abas)

Antifon Pembuka
 
Simeon berkata kepada Maria, “Anak ini menentukan jatuh bangkitnya banyak orang di Israel. Ia menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan. Dan hatimu sendiri akan ditembus dengan pedang.”

Pengantar

 Santa Perawan Maria sebagai martir, terkandung dalam nubuatan Simeon, tampil di hadapan mata dalam kisah sengsara Tuhan kita. Orang tua yang diberkati, yaitu Simeon, berkata tentang kanak-kanak Yesus, "Anak ini ditentukan sebagai tanda yang akan ditentang," dan kepada Maria, "Hatimu akan ditembus pedang."

 Jangan heran, Saudara-saudara, bahwa Maria dikatakan menderita sebagai martir dalam jiwanya. Tetapi ada orang akan heran, yaitu mereka yang lupa akan kata-kata Paulus tentang orang kafir, bahwa di antara cacat mereka, yang paling berat ialah bahwa mereka tidak mengenal belas kasih. Tidak begitulah Maria! Semoga jangan sampai begitu mereka, yang menghormati dia! (St. Bernardus, Sumber: Bacaan Ofisi Para Kudus 3, Yogyakarta - Kanisius, 1982, hlm. 34-36)
 
Doa Pagi
   
Ya Allah, Engkau yang menghendaki Putra-Mu tergantung pada kayu salib, Maria berdiri di didekat Putra-Mu dan berbagi penderitaan dengan-Nya, izinkanlah Gereja-Mu berpartisipasi dengan Maria dalam penderitaan Kristus untuk memperoleh kebaikan karena kebangkitan Putra-Mu. Engkau yang hidup dan berkuasa bersama dengan Putra-Mu dalam persatuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin
             
Dalam membangun pertumbuhan hidup rohani, kasih adalah sebuah kebajikan yang sangat unggul. Segala hal bisa kita miliki, namun kalau tanpa kasih, semuanya tidak ada artinya. Sudah selayaknya kasih mengisi segala yang kita miliki tersebut dan sekaligus juga menopang segala keutamaan yang lain.
  
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (12:31-13:13)

              
Saudara-saudara, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku tahu segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi bila yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna. Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, mereka seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula. Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang ini kita melihat gambaran samar-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka. Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal secara sempurna sebagaimana aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih. Namun yang terbesar di antaranya ialah kasih!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
           

atau
 
Ketaatan Yesus kepada Allah menjadi teladan bagi kita semua untuk berusaha mengosongkan diri dan memenuhinya dengan Allah sendiri. Hanya dengan mengosongkan diri, kita bisa semakin dipenuhi oleh kehendak Allah sendiri.
 
Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (5:7-9)
   
Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan, la = d, 4/4, PS 818
Ref. Tuhan, sudi dengarkan rintihan umat-Mu.
Ayat. (Mzm 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20)
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku.
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
3. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.
4. Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku.
5. Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!
  
Sekuensia (Lihat Bunda Yang Berduka / Stabat mater dolorosa), do = f, 4/4, PS 639 -fakultatif-
1. Lihat bunda yang berduka / di depan salib Sang Putra ; air mata bergenang. /
O betapa jiwa ibu / tersedu menanggung pilu, bagai ditembus pedang.
2. Bunda Putra Tunggal Allah disebut Yang Berbahagia / kini sangat bersedih. / Hatinya dirundung duka, kar'na putra yang termulia bersengsara di salib.
3. O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisi Putranya?
/ Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda kar'na siksa Anak-Nya.
4. Dilihatnya Yesus, putra, yang tersiksa dan terluka / kar'na dosa umat-Nya /
dan bergumul sendirian / menghadapi kematian / menyerahkan nyawa-Nya.
5. Wahai bunda sumber kasih, / biar turut kuhayati dukamu yang mencekam;
biar hatiku bernyala / mengasihi Putra Allah dan pada-Nya berkenan.
6. Biarlah sengsara aib / dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku;
biar siksa salib itu / yang ditanggung-Nya bagiku kudekap bersamamu.
7. Biar aku di sampingmu / pilu kar'na wafat Kristus di sepanjang hidupku;
inilah keinginanku: / di dekat salib Putramu besertamu tersedu.
8. O perawan yang terpilih, / perkenankan aku ini ikut dikau bersedih;
biar kematian Tuhan / dan darah-Nya yang tercurah kukenangkan tak henti.
9. Biar aku pun terluka / menghayati salib Tuhan, digerakkan kasih-Nya. Hatiku engkau kobarkan; / biar aku dibebaskan dalam penghakiman-Nya.
10. Biarlah salib Tuhanku / jadi benteng naunganku, dan kurasa rahmat-Nya.
Bila nanti aku mati / biar aku mewarisi kemuliaan yang kekal.

Stabat mater dolorosa
juxta crucem lacrimosa, 
dum pendebat filius. 

Cujus animam gementem,
contristatam et dolentem
per transivit gladius. 

O quam tristis et afflicta 
fuit illa benedicta 
Mater Unigeniti! 

Quae moerebat et dolebat,
et tremebat cum videbat
nati poenas inclyti.

Quis est homo qui non fleret, 
Christi materm si videret 
in tanto supplicio?

Quis non posset contristari,
piam Matrem contemplari 
dolentem cum Filio? 

Pro peccatis suae gentis, 
vidit Jesum in tormentis 
et flagellis subditum.

Vidit suum dulcem natum,
morientem, desolatum,
dum emisit spiritum.

Eja Mater, fons amoris, 
Me sentire vim doloris 
Fac, ut tecum lugeam.

Fac, ut ardeat cor meum 
In amando Christum Deum,
Ut sibi complaceam. 

Sancta Mater, istud agas,
Crucifixi fige plagas
Cordi meo valide. 

Tui nati vulnerati, 
Tam dignati pro me pati, 
Mecum poenas divide. 

Fac me vere tecum flere,
Crucifixo condolere, 
Donec ego vixero. 

Juxta crucem tecum stare,
Te libenter sociare 
In planctu desidero.

Virgo virginum praeclara,
Mihi jam non sis amara, 
Fac me tecum plangere. 

Fac, ut portem Christi mortem, 
Passionis eius sortem,
Et plagas recolere. 

Fac me plagis vulnerari, 
Cruce hac inebriari,
Ob amorem Filii.

Inflammatus et accensus
Per te, Virgo, sim defensus
In die judicii.

Fac me cruce custodiri, 
Morte Christi muniri,
Confoveri gratia. 

Quando corpus morietur, 
Fac, ut animae donetur 
Paradisi gloria.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu
     
Peristiwa di bawah salib, menjadi bukti nyata kesetiaan Maria sebagai ibu dan sekaligus murid Yesus. Dia tidak meninggalkan Yesus dalam penderitaan, namun terus mendampingi-Nya. Dia juga tidak menyangkal Yesus, namun berani mendekat di bawah salib-Nya. Kesetiaan sebagai seorang ibu ini diserahkan untuk murid-murid-Nya.
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (19:25-27)
    
Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Atau:
 
Nubuat kepedihan yang disampaikan kepada Maria, tidak membuatnya surut dalam menjalani perannya sebagai ibu Yesus. Memang ada risiko yang harus ditanggung ketika mengiyakan turut serta dalam karya keselamatan. Maria tidak menolak risiko tersebut. Justru kesetiaan-Nya sebagai ibu dan murid Yesus inilah yang kemudian menjadi teladan bagi kita bersama.
   
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:33-35)

Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan

 

 Nubuat yang dinyatakan oleh Simeon adalah atu dari beragam misteri iman yang menggelayuti pikiran Santa Perawan Maria. Sudah sejak awal, Maria sadar bahwa "Fiat"-Nya akan membawa risiko besar dalam seluruh perjalanan hidupnya yakni pedang yang akan menembus jiwa Maria. Pedang yang menembus jiwa itu juga akan dihadapi oleh orang-orang yang bersedia menyatakan "Fiat" kepada Tuhanl mereka yang bersedia mengikuti Tuhan secara radikal dan yang dengan gembira memikul salib. Apakah kita berani menerima pedang sebagai konsekuensi mengikuti Tuhan?
 
Doa Malam
  
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas Bunda Maria yang Engkau berikan kepada kami untuk menjadi Bunda Gereja dan ibu kami semua. Bantulah kami umat-Mu untuk meneladani Bunda Maria, yang setia, rendah hati dan rela berkorban. Dan semoga kami selalu menghormati orang tua kami. Doa ini kami persembahkan dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
  
   
RUAH

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Minggu, 14 September 2014
Pesta Pemuliaan Salib Suci

Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Hari ini kita merayakan pesta Salib Suci, sebuah pesta yang dikaitkan dengan kisah penemuan salib Yesus di bukit Golgota oleh St. Helena pada abad ke-4. Lebih dari itu, kita diajak untuk merayakan misteri iman akan salib Kristus yang membawa keselamatan bagi kita. Di atas salib, Ia telah menumpahkan darah-Nya untuk membasuh kita dari segala noda dosa dan juga merentangkan tangan-Nya untuk merengkuh kita dalam pelukan kasih-Nya. Untuk itu, sambil bertekun dalam memikul salib kita masing-masing, marilah kita juga berusaha menemukan salib Kristus dalam hidup sehari-hari. Kita satukan salib-salib kita dengan Salib-Nya agar kita mendapatkan kekuatan dan keselamatan. Salah satu saranya yang paling sederhanya adalah dengan menghayati setiap tanda salib yang sering kita buat, entah berapa kali dalam sehari. Setiap kali membuat tanda salib, kita berkata "Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus". "Dalam" bukan "Atas". Artinya, melalui tanda salib itu, kita masuk ke dalam persekutuan Allah Tritunggal Mahakudus. Dengan tanda salib, kita menandai kening, data dan kedua bahu kita. Dengan demikian, seluruh hidup kita: pikiran kita (kening), hati kita (data), dan karya-karya kita (bahu) selalu berada dalam rengkuhan Allah Tritunggal. Di situlah kita menemukan jaminan keselamatan kita.

Doa: Ya Tuhan, dalam salib Kristus kami menemukan jaminan keselamatan kami. Bantulah kami untuk menghayati dengan sungguh-singguh, baik salib yang harus kami pikul dalam hidup sehari-hari maupun tanda salib yang setiap saat kami buat. Amin. -agawpr-

Minggu, 14 September 2014 Pesta Pemuliaan Salib Suci


Minggu, 14 September 2014
Pesta Pemuliaan Salib Suci
        
Kematian di kayu salib adalah kurban yang satu kali untuk selamanya dipersembahkan Kristus, “pengantara antara Allah dan manusia” (1 Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, “Ia seakan-akan bersatu dengan tiap manusia” (GS 22,2) maka Ia memberikan “kemungkinan kepada semua orang, untuk bergabung dengan misteri Paskah ini, atas cara yang diketahui Allah” (GS 22,5). Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr 2:21). Ia ingin mengikut-sertakan dalam kurban ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya (Bdk. Mrk 10:39; Yoh 21:18-19; Kol 1:24). Ini berlaku terutama untuk ibu-Nya, yang dalam misteri kesengsaraan-Nya yang menebuskan itu, dibawa masuk lebih dalam daripada setiap manusia yang lain (Bdk. Luk 2:35).
“Tidak ada satu tangga lain untuk naik ke surga, selain salib” (Rosa dari Lima, Vita). (Katekismus Gereja Katolik, 618)

         
Antifon Pembuka (Gal 6:14)
      

Kita harus bangga akan salib Tuhan kita Yesus Kristus pohon keselamatan, kehidupan dan kebangkitan kita, sumber penebusan dan pembebasan kita.
     
We should glory in the Cross of our Lord Jesus Christ, in whom is our salvation, life and resurrection, through whom we are saved and delivered. 
   
 
Ref. Nos autem gloriari oportet, in cruce Domini nostri Iesu Christi: in quo est salus, vita, et resurrectio nostra: per quem salvati, et liberati sumus.
Ayat.
1. Deus misereatur nostri, et benedicat nobis: illuminet vultum suum super nos, et misereatur nostri.
2. Ut cognoscamus in terra viam tuam: in omnibus gentibus salutare tuum.
3. Confiteantur tibi populi, Deus: confiteantur tibi populi omnes.
      
Tobat 3    
   
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Putra Manusia yang harus ditinggikan di salib, agar siapa saja yang percaya kepada-Mu tidak binasa, melainkan memiliki hidup abadi. Tuhan, kasihanilah kami.
   

Engkaulah Putra Allah yang belajar menjadi taat dalam penderitaan untuk menjadi pokok keselamatan kekal bagi mereka yang taat kepada-Mu. Kristus, kasihanilah kami. 
     

Engkaulah Putra Allah yang tunggal, yang diserahkan oleh Allah sebagai bukti cinta kasih-Nya kepada dunia, agar setiap orang yang percaya kepada-Mu tidak binasa, melainkan memiliki hidup abadi. Tuhan, kasihanilah kami    
 
Doa Pagi

  
Ya Allah, Engkau menghendaki Putra Tunggal-Mu menanggung salib demi keselamatan umat manusia. Perkenankanlah kami, yang menghormati misteri salib Putra-Mu di dunia, kelak menerima anugerah penebusan di surga. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
   
Bacaan dari Kitab Bilangan (21:4-9)
     
"Semua orang yang terpagut ular akan tetap hidup, bila memandang ular perunggu."
      
Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor, mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini!” Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan 
 
Ayat. (Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38) 
1. Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan Amsal, aku mau menuturkan hikmat dari zaman purbakala.
2. Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia; mereka berbalik dan mendambakan Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah Gunung Batu , bahwa Allah yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
3. Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya, dan dengan lidah mereka membohongi Allah. Hati mereka tidak berpaut pada-Nya, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.
4. Akan tetapi Allah itu penyayang! Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya, dan tidak melampiaskan keberangan-Nya.         
 
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi (2:6-11)
   
"Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia."
      
Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia, dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, “Yesus Kristus adalah Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 960 
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya 
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.  
Ayat. Ya Kristus, kami menyembah dan memuji Dikau, sebab dengan salib-Mu, Engkau telah menebus dunia.       
     
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:13-17)
      
"Anak manusia harus ditinggikan."
    
Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan
  

  Pada Hari Minggu ini Gereja merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci.  Mulanya perayaan ini diperingati sebagai hari raya hanya dalam Ritus Timur.  Pada abad V, sehari setelah pesta penahbisan Gereja Makam Kudus (13 September), kayu Salib Suci diperlihatkan kepada umat di Yerusalem. Perayaan ini melahirkan Pesta Penemuan Salib Suci. Menurut Santo Ambrosius, Uskup Milan (†397), kayu salib Yesus ditemukan kembali oleh Ratu Helena, ibu Kaisar Konstantinus. Kemudian salib itu dibagi-bagi menjadi potongan-potongan kecil untuk disimpan dalam batu altar gedung-gedung gereja di seluruh dunia sebagai relikui. Pada abad VII perayaan ini diterima dalam Ritus Latin dan sekarang disebut Pesta Pemuliaan Salib Suci.

 Di dalam kitab Bilangan dikatakan “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” (Bil 21:8). Dalam hal ini, Tuhan mengatakan kepada Musa untuk membuat ular tedung dari tembaga, sehingga orang Israel yang berdosa – karena melawan perintah Allah – dapat memperoleh kesembuhan.  Peristiwa itu dilihat dalam Injil sebagai nubuat atas peristiwa Putra Manusia yang akan ditinggikan dan semua orang yang memandang-Nya dan percaya akan diselamatkan. Salib selalu menjadi simbol sengsara penderitaan. Namun, bagi kita yang percaya, salib adalah sekaligus menjadi lambang kemenangan. Salib bukanlah kata akhir dalam perjalanan rohani kita. Kita harus melihatnya sebagai lambang harapan dan keberanian. Salib mungkin merupakan aib dan pengalaman tragis bagi seorang Putra Allah, namun itu juga menjadi kisah kekuatan dan kesembuhan bagi kita semua.

  Injil Yohanes membandingkan ular tembaga dengan Yesus Anak Allah yang turun ke dunia untuk mewartakan hidup kekal. Dalam hidup-Nya, Yesus mewartakan dan menawarkan "hidup kekal" itu melalui tanda-tanda yang tidak mudah dimengerti oleh orang lain. Banyak kali kata-kata Yesus menjadi sumber pertikaian di kalangan orang-orang Yahudi yang mendengar-Nya. Berulangkali Ia mengatakan bahwa Ia berasal dari Bapa (Allah), Ia menyebut Allah sebagai Bapa-Nya dan Diri-Nya sebagai Anak dan bahwa Ia datang membawa hidup kekal, barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Santo Yohanes menegaskan seperti orang Israel memandang ular tembaga lalu hidup, barangsiapa memandang kepada Dia yang diutus Bapa, akan memperoleh hidup kekal dengan melakukan kehendak Allah. Walaupun Yesus sudah berulangkali mengajar dan membuat tanda-tanda heran namun banyak orang masih tidak percaya. Karena itu Yesus berpesan kepada mereka, apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri..." Yesus menegaskan bahwa Dia berasal dari Bapa dan semua yang Ia lakukan adalah berasal dari Bapa. Di dalam diri Yesus, kita dapat menemukan hidup kekal. Maka barangsiapa mengangkat hati dan percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. 
   
  Para kudus  yang berada di Surga, mereka berkumpul di Surga bukan karena kekuatan dan kesucian mereka, namun karena mereka tergabung bersama Kristus dalam persatuan dengan tubuh mistik Kristus. Kemenangan para kudus dari dunia ini dengan cara bertumbuh dalam kekudusan dan dengan kerendahan hati, menyebabkan mereka dapat berkumpul bersama-sama dengan Kristus (lih. Why 3:21). Sikap kerendahan hati ini merupakan sikap yang meniru teladan Kristus, yang terlebih dahulu merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lih. Fil 2:8). Pada diri orang yang rendah hati, apa yang dilihat, misalnya karya-karya Tuhan dan situasi kehidupan sesama tidak akan berlalu begitu saja tetapi membangkitkan tindakan, misalnya untuk bersyukur, berpartisipasi, bersolider, dll. Lalu, apa yang didengar, misalnya sabda Tuhan, permohonan dan nasehat sesama, juga akan meresap dalam hati serta menghasilkan buah dalam tindakan. Berbeda dengan orang yang hatinya keras, apa yang dilihat dan yang didengar akan segara berlalu, ia akan pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar atau mendengar tetapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sementara penghayatan dalam hal keutamaan 'ketaatan' masa kini sungguh memprihatinkan, entah dalam hidup beriman, beragama, membiara atau imamat, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gejala yang nampak atau dapat diinderai setiap hari antara lain apa yang terjadi di jalanan, dimana para pejalan kaki, pengendara sepeda motor atau mobil kurang/tidak mentaati (tidak peduli) aturan berlalu lintas; cukup banyak orang melanggar rambu-rambu lalu lintas seenaknya, demi mempersingkat waktu tidak lagi peduli pada keselamatan dirinya maupun orang lain sehingga menimbulkan kecelakaan dan korban manusia. Kita, dalam bidang-bidang tertentu, mungkin lebih baik, lebih tahu, lebih ahli, lebih intelek, dan lebih lebih yang lain, dibandingkan orang lain. Namun, kalau kita tidak mempunyai kerendahan hati dan ketaatan, kita tidak akan bisa membangun kerjasama dan memberikan pelayanan yang membuahkan sukacita dan damai sejahtera.
 
  Dalam salah satu pengajaran-Nya, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan.  Melalui Yesus itu manusia beriman melintasi perjalanannya di dunia ini menuju keselamatan yang abadi. Yesus tidak hanya memberikan pernyataan bahwa dirinya jalan, kebenaran dan kehidupan. Ia sendiri rela mengorbankan hidupnya bagi manusia. Ia sendiri wafat di kayu salib untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ia mengajarkan kebenaran kepada manusia. Kebenaran itu ialah bahwa Tuhan senantiasa mengasihi manusia. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendiri di dunia ini. Untuk itu, manusia mesti selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Hanya dengan cara demikian, manusia tidak akan mengalami salah jalan. Manusia akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, kalau tetap berpegang teguh pada Tuhan.
               
"Hari ini kita melihat pada Salib, kisah manusia dan kisah Allah. Kita pandang Salib ini, di mana kalian dapat mencoba madu dari getah itu, madu pahit itu, rasa pahit dari manisnya pengorbanan Yesus itu. Tapi misteri ini begitu besar, dan kita tidak bisa oleh diri kita sendiri melihat dengan baik pada misteri ini, tidak untuk memahami – ya, untuk memahami – tapi untuk merasakan dengan mendalam keselamatan dari misteri ini. Pertama-tama misteri Salib. Ini hanya dapat dimengerti, sedikit, dengan berlutut, dalam doa, tetapi juga melalui air mata: air matalah yang mendekatkan kita dengan misteri ini.“. (Paus Fransiskus, Homili Pesta Pemuliaan Salib Suci, 2013)
       
R-P@B-NVL-

Salib bukan berhala